Senin, 11 Januari 2010

BAGAIMANA MEMASANG MEREK DAGANG

Oleh: Dr. Ir. Asfida Parama Rani, M.M (STIE INDONESIA BANJARMASIN)

Di bagian kebutuhan pokok sebuah toko swalayan, seorang ibu membolak-balik beberapa kantong plastik berisi beras yang dipajang di situ. Kemudian karena tidak menemukan apa yang dicari, dia menyebutkan suatu nama merek pada pramuniaga. Anda yang masih tergolong orang 'tempo doeloe' mungkin heran, bahwa sekarang beras dan garam dijual memakai merek lengkap dengan tipe sekian, persis seperti merek televisi atau kulkas.

Manfaat Trade Mark dan Brand Name
 
Tetapi demikianlah kenyataannya. Merek atau trade mark adalah suatu tanda atau simbol yang memberikan identitas bagi suatu produk atau jasa tertentu. Dengan merek suatu produk menjadi lebih mudah dikenali. Ini jika tujuan kita adalah membuat produk kita menjadi dikenal masyarakat.

Pemakaian merek atau trade mark akan dapat mengangkat citra produk kita pada saat produk kita terbukti berkualitas dan diminati oleh masyarakat luas, atau diminati oleh konsumen yang mengutamakan kualitas produk. Merek atau trade mark dapat menjadi penghalang bagi masuknya produk lain ke dalam pasar yang sudah dikuasai. Karena dengan melalui trade mark kita dapat menciptakan pelanggan yang fanatik terhadap produk-produk bermerek milik kita.

Dengan merek dagang kita juga dapat menciptakan brand name bagi produk kita. Manfaatnya adalah sebagian besar orang akan mengingat trade mark kita. Dengan kata lain, merek dagang telah berubah menjadi public domain, atau nama yang umum dipakai masyarakat. Agar Anda tidak bingung meHhat beda antara trade mark dan brand name, dontoh yang dikemukakan disini adalah silet, dan supermie. Silet sebetulnya berasal dari merek Gillette di Amerika, tetapi sekarang umum dipergunakan untuk menyebut pisau tipis itu. Supermie adalah contoh yang lain. Nama supermie ternyata masih digunakan untuk menyebut mie instan, walaupun sekarang pasar didominasi Indomie. Contoh yang lain, coba ingat, apa nama yang Anda sebut waktu akan membeli deterjen pencuci pakaian, pasta gigi (’Odol’ adalah merek pasta gigi di Belanda), kamera, cairan putih omtuk menghapus salah ketik, air kemasan, minuman es campur alpukat, sepeda motor, dan mobil angkutan pedesaan.

Dengan menjadi brand name, produk-produk tersebut terbukti telah memberikan laba yang besar. Dengan menjadi brand name, produk kita juga berpeluang menjadi produk nomor satu di pasar. Dengan demikian, sebagai seorang wirausaha yang menginginkan produk kita dikenal oleh masyarakat, maka memasangkan merek merupakan langkah yang tepat. Manfaat utama yang dapat kita peroleh dengan memasangkan merek pada produk adalah:

1. Produk kita dikenal oleh masyarakat

Dengan memasangkan merek pada produk kita, masyarakat menjadi mengenal produk kita. Jika ternyata produk kita dapat memuaskan kebutuhan konsumen, maka akan menjadi mudah bagi konsumen tersebut untuk mengingat produk kita.

2. Memudahkan konsumen untuk membeli produk kita.

Dengan hanya menyebutkan merek produk, penjual akan segera tahu,tanpa perlu menerangkan jenis produk, warna produk, kualitas produk, bentuk produk, ukuran produk, dan sebagainya.

3. Membedakan produk kita dengan produk pesaing.

Perbedaan dalam bentuk keunggulan terhadap pesaing adalah kunci keberhasilan dalam persaingan yang makin ketat belakangan ini. Merek akan membedakan produk kita dari produk pesaing.

4. Menciptakan penghalang bagi rnasuknya produk pesaing

Dengan memberikan merek pada produk, kita dapat menciptakan kelompok tertentu masyarakat yang setia atau fanatik terhadap produk kita. Sehingga merek juga berfungsi sebagai strategi untuk menghalangi produk pesaing.

5. Merek bisa dijual

Merek yang terkenal bisa dijual dalam kerjasama franchising atau waralaba. Ambil contoh Es Teler 77. Bos Es Teler, Sukyatno Nugroho, dapat dikatakan hanya menjual merek dan resep saja. Selebihnya dibiayai oleh para pengusaha kecil yang tersebar di seluruh Nusantara.

Memilih merek atau trade mark

Jika kita memutuskan untuk memasang merek pada produk kita, maka sebaiknya kita memilih merek yang mudah diingat, menimbulkan kesan positif, dan tepat untuk promosi.

Ciri-ciri merek yang baik adalah : pendek, sederhana, mudah dieja, mudah diingat, enak dibaca, tidak bernada sumbang, tidak ketinggalan zaman, mempunyai hubungan dengan produk yang diperdagangkan, jika diekspor mudah dibaca oleh orang luar negeri, tidak bernada negatif atau menyinggung sekelompok orang, dan dapat menggambarkan apa jenis produk serta bagaimana kira-kira penggunaan produk tersebut. Minuman botol bisa diberi merek 'Fresh' yang artinya segar. Merek tersebut pendek, mudah dibaca, kesannya bagus, dan bisa menggambarkan rasanya.

Paten untuk Merek

Merek juga perlu dipatenkan, agar tidak ditiru atau dipalsu orang lain. Paten tersebut biayanya relatif murah, dan ada jangka waktunya. Kini telah diterbitkan undang-undang mengenai Merek dan Hak Paten dari Departemen Kehakiman. Bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut, sebaiknya Anda membeli buku tersebut di toko buku.

Perlu juga disinggung mengenai lambang R (registered trade mark) yang dilingkari yang dicantumkan di belakang suatu merek. Lambang tersebut menunjukkan bahwa merek tersebut telah dipatenkan, punya kekhasan (khusus) dan tidak boleh ditiru, baik nama, logo, huruf maupun rancangannya. Contohnya adalah nama Coca Cola dan Pepsi. Nama tersebut tidak umum dipakai dan tidak ada dalam kamus. Kadang-kadang ada kalimat tertenhi yang dipatenkan R juga. Misalnya gambar ”Intel Inside” yang dilingkari untuk produk komputer.

Kadang-kadang kita jumpai lambang TM (trade mark) di belakang merek. Apakah artinya ? TM adalah merek paten yang tidak khas, artinya nama tersebut bisa dipakai bukan saja untuk merek itu. Contohnya adalah merek Citra, karena kata citra dijumpai dalam perbendaharaan kata di kamus Bahasa Indonesia, maka kata tersebut masih boleh dipakai untuk masyarakat luas.

Sebaliknya, kata silet asalnya dari Gillette yang merupakan merek Registered, tetapi karena sudah menjadi milik masyarakat, maka istilah silet dicantumkan di kamus. Gillette tidak bisa berbuat banyak jika nama salah-kaprahnya kemudian dipakai untuk menyebut "silet" Tatra atau Goal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar, saran, atau kritik Anda. Mohon tetap mengindahkan etika, tidak menyinggung SARA, Pornografi, serta SPAM. Apa yang ditulis oleh pengunjung sepenuhnya tanggung jawab pengunjung yang bersangkutan.Terima kasih.